thumbnail-cadangan
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Dua ayat dimuka termasuk rangkaian beberapa ayat dalam surat al israa yaitu ayat 22 - 39 yang intinya menjelaskan :
  1. hakekat iman dan amal saleh yang apabila diterapkan oleh setiap mukmin berarti ia mempunyai obsesi keahiratan, sehingga ia tergolong orang-orang yang beruntung dalam catatan amalnya dan mujur nasibnya kelak di ahirat (dijelaskan dalam ayat 22 )
  2. perwujudan (manefistasi) dan persartan iman yaitu : 
  • beribadah kepada Allah tanpa sekecilpun berbuat syirik
  • berbakti kepada kedua orang tua karena sebab perantara mereka adanya kelahiran manusia
 poin tersebut di atas disebutkan secara berurutan dalam ayat 23 seakan Allah mensejajarkan kewajiban hanya saja poin yang terakhir itu di tambah dengan kewajiban mendoakan keduanya yang di jelaskan pada ayat 24
  • melakukan beberapa jenis ibadah sosial, memiliki dan menerapkan nilai-nilai akhlakul karimah dan menjunjung tinggi norma hukum islam, semuanya itu di rinci dan diuraikan pada ayat 25-39.
khusus pada ayat 26 - 27 
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ 
nilai kebajikan yang diajarkan pada potongan ayat ini adalah nilai ibadah sosial  memenuhi hak-hak sanak kerabat yaitu dengan membangun hubungan hablumminannas dengan saling membantu sebagai kewajiban bersama setelah itu baru segi ibadah sosial di tujukan kepada kaum fakir miskin dan orang yang kehabisan bekal dalm perjalanan. Orang yang berhak di santuni dalam kategori keduanya adalah termasuk kaum DHUAFA 
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا   
setelah menyinggung tentang ibadah sosial maka melalui bagian akhir surat al isra ayat 26 ini Allah telah memberikan batasan larangan "jangalah kamu berlaku tabdzir terhadap karunia rizki yang sudah Allah berikan kepadamu" yang dimaksud tabdzir adalah membelanjakan harta tidak pada tempatnya. Lebih tabdzir lagi membelanjakan harta untuk keperluan maksiat.
 إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ 
dan tentu saja para pemboros itu adalah kaki tangan setan. karena nikmat rizki yang di berikan oleh Allah kepada mereka bukanlah digunakan untuk sesuatu yang di ridloi malah justru di gunakan untuk berbuat durhaka kepada NYA.
      وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا    
disinilah syetan disebut kafur tidak di sebut dengan sifat-sifat terkutuk lainya karena orang-orang yang menghambur-hamburkan harta untuk keperluan maksiat berarti ia kafur sebagai mana yang dilakukan oleh sytan.                                     
 

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

next..
Nabi Muhammad mula-mula beerta para sahabatnya dalam sholatnya mengahadap baitul maqdis selama 16 bulan lamanya.
baitul maqdis
setelah itu Allah SWT memerintahkan pemindahan arah kiblat ke ka'bah masjidil haram di makkah. akan tetapi pemindahan arah kiblat ini dijadikan alat oleh kaum ahli kitab untuk menjatuhkan kredibilitas Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul. Padahal meraka sudah tahu bahwa Beliau yang mereka kenal sebagai rasul tidaklah mungkin begitu saja memindahkan arah kiblat ke masjidil haram tanpa adanya perintah dari wahyu.

ka'bah masjidil haram

dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa setiap umat ada kiblatnya masing-masing.sebagai tempat menghadap ibadah kepada Nya. sehingga kewajiban bagi hamba-hambanya adalah :
  1. mematuhi arah kiblat yang telah ditetapkan oleh wahyu, meskipun perbedaan arah kiblat itu tidak dijelaskan mengenai rahasia hikmahnya.
  2. berkompetisi dalam kebaikan فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  maka Allah akan membalas setiap amal perbuatan manusia kelak dengan balasan yang setimpal.
surat al baqarah ayat 148  tersebut di atas terdiri dari 4 bagian
  1.  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا menghadap kiblat itu semata-mata kewajiban syar'i bukan prinsip ajaran agama sepeti halnya meng ESA kan Allah, beriman kepada hari akhir, oleh karena itu dalam masalah kiblat ataupun seperti bilangan rakaat dalam shalat, ukuran harta benda yang wajib di zakatkan, semua itu harus tunduk pada perintah wahyu. Setiap umat ada kiblatnya sendiri-sendiri dalam beribadah. Nabi Ibrahim, Nabi Isamail menghadap ka'bah, Bani Israil menghadap batu besar di baitul maqdis, orang nasrani menghadap arah timur.Masalah kiblat termasuk jenis perbedaan sebagaimana perbedaan suku dan bangsa oleh kaerna itu tidak perlu lagi diperdebatkan.
dalam ajaran agama ada masalah yang boleh diperdebatkan dan ada masalah yang tidak boleh di perdebatkan ;
  1. masalah ushul yakni masalah yang sudah di jelaskan secara tegas di dalam al quran maupun hadis. seperti  rukun iman ada 6, rukun islam ada 5, menghadap kiblat, jumlah shalat fardlu, nabi muhammad sebagai nabi terakhir, larangan mkan harta riba. masalah inilah yang umat islamtidak boleh berbeda pendapat.
  2. masalah furu' yakni masalah yang sifat keterangannya tidak jelas didalam al quran mapun hadis, bahkan tidak di singgung sama sekali. seperti melafalkan niat, doa qunut dalam shalat subuh, pelaksanaan shalat I'd di masjid atau di lapangan. masalah yang sperti inilah umat islam di perbolehkan berbeda pendapat.asalkan orang yang mengeluarkan pendapat itu adalah orang yang ahli dalam bidangnya.
2.      فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  potongaayat ini menjelaskan lebih baik saling berlomba-lomba dalam      berbuat kebikan dari pada membuang-buang energi memperdebatkan masalah kiblat yang pada akhirnya orang akan menyesal di kemudian hari sebab amalperbuatan seseoranglah yang nantinya dibuat bekal menghadap kepada Nya di akhirat nanti.
3.  أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا  dimana saja kamu berada niscaya Allah akn mengumpulkan kamu sekalian oleh kaeran itu seperti yang sudah di jelaskan di atas bahwa berkompetisi dalam kebikan lebih utama dijadikan sebagai pandangan hidup. persoalan letak geografis maupun kiblat tidaklah temasuk dalam pokok ajaran agama melainkan hanya sebgai wahana dalam kompetisi berbuat kebaikan.
4.   إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ maka tidak satu makhluk pun yang dapat menjadikan Allah kuwalahan dalam mengumpulkan umat manusia disana meskipun mereka berjauhan tempatnya.

 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ


"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surat 58. AL MUJAADILAH - Ayat 11)

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
"Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Surat 35. FATHIR - Ayat 28)
Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga. (HR. Muslim)
Barang siapa memberikan petunjuk kebaikan, maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya, dan tidak berkurang sedikitpun hal itu dari ganjaran orang tersebut. (HR. Muslim)
Jika manusia telah meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga macam:
1. Sedekah jariyah (yang tahan lama).
2. Ilmu yang bermanfaat.
3. Anak shaleh (berakhlak baik) yang mendo'akan kedua orang tuanya. (HR. Muslim)

   
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
1. Dengan nama Allah, Yang Pemurah, lagi Maha Penyayang.
 1. In the name of Allah, the Gracious, the Merciful.
تبت يدا أبي لهب وتب تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
2. Binasalah kedua tangan Abu Lahab [3458] dan benar-benar binasa dia! 
2. Perish the two hands of Abu Lahab [3458] and perish he!
ما أغنى عنه ماله وما كسب مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
3. Tidaklah berguna baginya hartanya [3459] dan apa yang dia usahakan, 
3. His wealth  and what he has earned [3459] shall avail him naught,
سيصلى نارا ذات لهب سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
. 4 Kelak ia akan masuk ke dalam nyala api; [3460] 
4. Soon shall he burn in a flaming fire; [ 3460 ]
وامرأته حمالة الحطب وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
5. Dan juga istrinya, pembawa fitnah [3461] 
5. And his wife, too, bearer of slander [ 3461 ]
في جيدها حبل من مسد فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
6. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipin. [3462] 
6. Round her neck shall be a halter of twisted palm-fibre . [ 3462 ]