thumbnail-cadangan
Pengertian As-Sunnah
Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi, yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi umat ini. Termasuk didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana yang menjadi pengertian umum menurut ahli hadits. Juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada derajat wajib’ yang menjadi istilah ahli fikih (Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal. 11).
As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah :
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)
Para ulama juga menafsirkan firman Allah :
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ..
“…dan supaya mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah” (Al BAqarah ayat 129)
Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-Syafi`i, “Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur`an yang dimaksud adalah As-Sunnah.” Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain. ( Al-Madkhal Li Dirasah Al Aqidah Al-Islamiyah hal. 24)
As-Sunnah Terjaga Sampai Hari Kiamat
Diantara pengetahuan yang sangat penting, namun banyak orang melalaikannya, yaitu bahwa As-Sunnah termasuk dalam kata ‘Adz-Dzikr’ yang termaktub dalam firman Allah Al-Qur`an surat al-Hijr ayat 9, yang terjaga dari kepunahan dan ketercampuran dengan selainnya, sehingga dapat dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Tidak seperti yang di sangka oleh sebagian kelompok sesat, seperti Qadianiyah (Kelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi, yang muncul di negeri India pada masa penjajahan Inggris) dan Qur`aniyun (Kelompok yang mengingkari As-Sunnah, dan hanya berpegang pada Al-Qur’an), yang hanya mengimani (meyakini) Al-Qur`an namun menolak As-Sunnah. Mereka beranggapan salah (dari sini nampak sekali kebodohan mereka akan Al Qur’an, seandainya mereka benar-benar mengimani Al Qur’an sudah pasti mereka akan mengimani As-Sunnah, karena betapa banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah yang sudah barang tentu menunjukkan perintah untuk mengikuti As-Sunnah) tatkala mengatakan bahwa As-Sunnah telah tercampur dengan kedustaan manusia; tidak lagi bisa dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Sehingga, mereka menyangka, setelah wafatnya Rasulullah , kaum muslimin tidak mungkin lagi mengambil faedah dan merujuk kepada as-Sunnah.( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi Al Aqaid wal Ahkam hal. 16)
Dalil-dalil yang Menunjukkan Terpelihranya As-Saunnah:
Pertama:
Firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr:9)
Adz-Dzikr dalam ayat ini mencakup Al-Qur’an dan –bila diteliti dengan cermat- mencakup pula As-Sunnah.
Sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa seluruh sabda Rasulullah yang berkaitan dengan agama adalah wahyu dari Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm:3)
Tidak ada perselisihan sedikit pun di kalangan para ahli bahasa atau ahli syariat bahwa setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah merupakan Adz-Dzikr. Dengan demikian, sudah pasti bahwa yang namanya wahyu seluruhnya berada dalam penjagaan Allah; dan termasuk di dalamnya As-Sunnah.
Segala apa yang telah dijamin oleh Allah untuk dijaga, tidak akan punah dan tidak akan terjadi penyelewengan sedikitpun. Bila ada sedikit saja penyelewengan, niscaya akan dijelaskan kebatilan penyelewengan tersebut sebagai konsekuensi dari penjagaan Allah. Karena seandainya penyelewengan itu terjadi sementara tidak ada penjelasan akan kebatilannya, hal itu menunjukkan ketidak akuratan firman Allah yang telah menyebutkan jaminan penjagaan. Tentu saja yang seperti ini tidak akan terbetik sedikitpun pada benak seorang muslim yang berakal sehat.
Jadi, kesimpulannya adalah bahwa agama yang dibawa oleh Muhammad ini pasti terjaga. Allah sendirilah yang bertanggung jawab menjaganya; dan itu akan terus berlangsung hingga akhir kehidupan dunia ini ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 16-17)
Kedua:
Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menjadikan syari’at yang dibawanya sebagai syari’at penutup. Allah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk beriman dan mengikuti syari’at yang dibawa oleh Muhammad sampai Hari Kiamat, yang hal ini secara otomatis menghapus seluruh syari’at selainnya. Dan adanya perintah Allah untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, menjadikan syariat agama Muhammad tetap abadi dan terjaga. Adalah suatu kemustahilan, Allah membebani hamba-hamba-Nya untuk mengikuti sebuah syari’at yang bisa punah. Sudah kita maklumi bahwa dua sumber utama syari’at Islam adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Maka bila Al-Qur’an telah dijamin keabadiannya, tentu As-Sunnah pun demikian ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 19-20)
Ketiga:
Seorang yang memperhatikan perjalanan umat Islam, niscaya ia akan menemukan bukti adanya penjagaan As-Sunnah. Diantaranya sebagai berikut (Al Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah, hal. 25):
(a) Perintah Nabi kepada para sahabatnya agar menjalankan As-Sunnah.
(b) Semangat para sahabat dalam menyampaikan As-Sunnah.
(c) Semangat para ulama di setiap zaman dalam mengumpulkan As-Sunnah dan menelitinya sebelum mereka menerimanya.
(d) Penelitian para ulama terhadap para periwayat As-Sunnah.
(e) Dibukukannya Ilmu Al Jarh wa At Ta’dil.( Ilmu yang membahas penilaian para ahli hadits terhadap para periwayat hadits, baik berkaitan dengan pujian maupun celaan, Pen.)
(f) Dikumpulkannya hadits–hadits yang cacat, lalu dibahas sebab-sebab cacatnya.
(g) Pembukuan hadits-hadits dan pemisahan antara yang diterima dan yang ditolak.
(h) Pembukuan biografi para periwayat hadits secara lengkap.
Wajib merujuk kepada As-Sunnah dan haram menyelisihinya
Pembaca yang budiman, sudah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin pada generasi awal, bahwa As-Sunnah merupakan sumber kedua dalam syari’at Islam di semua sisi kehidupan manusia, baik dalam perkara ghaib yang berupa aqidah dan keyakinan, maupun dalam urusan hukum, politik, pendidikan dan lainnya. Tidak boleh seorang pun melawan As-Sunnah dengan pendapat, ijtihad maupun qiyas. Imam Syafi’i rahimahullah di akhir kitabnya, Ar-Risalah berkata, “Tidak halal menggunakan qiyas tatkala ada hadits (shahih).” Kaidah Ushul menyatakan, “Apabila ada hadits (shahih) maka gugurlah pendapat”, dan juga kaidah “Tidak ada ijtihad apabila ada nash yang (shahih)”. Dan perkataan-perkataan di atas jelas bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Perintah Al-Qur`an agar berhukum dengan As-Sunnah
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan As-Sunnah, diantaranya:
1. Firman Allah :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat.” (Q.S. Al Ahzab: 36)
2. Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)
3. Firman Allah :
وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ
“Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 32)
4. Firman Allah :
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; janganlah kamu berbantah-bantahan, karena akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfal: 46)
5. Firman Allah :
 تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا  
وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa’: 13-14)
Hadits-hadits yang memerintahkan agar mengikuti Nabi dalam segala hal diantaranya:
1. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang engan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham) (Hadits no. 6851).
2. Abu Rafi’ mengatakan bahwa Rasulullah bersabda :
“Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti”, (HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud (no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah (no. 12), At-Thahawi IV/209).
3. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).
Kesimpulan :
1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, sehingga tidak diperbolehkan kaum muslimin menyelisihi salah satu dari keduanya. Durhaka kepada Rasulullah berarti durhaka pula kepada Allah, dan hal itu merupakan kesesatan yang nyata.
2. Larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Rasulullah sebagaimana kerasnya larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Allah.
3. Sikap berpaling dari mentaati Rasulullah merupakan kebiasaan orang-orang kafir.
4. Sikap rela/ridha terhadap perselisihan, -dengan tidak mau mengembalikan penyelesaiannya kepada As-Sunnah- merupakan salah satu sebab utama yang meruntuhkan semangat juang kaum muslimin, dan memusnahkan daya kekuatan mereka.
5. Taat kepada Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang ke dalam Surga; sedangkan durhaka dan melanggar batasan-batasan (hukum) yang ditetapkan oleh Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang kedalam Neraka dan memperoleh adzab yang menghinakan.
6. Sesungguhnya Al-Qur`an membutuhkan As-Sunnah (karena ia sebagai penjelas Al-Qur’an); bahkan As-Sunnah itu sama seperti Al-Qur`an dari sisi wajib ditaati dan diikuti. Barangsiapa tidak menjadikannya sebagai sumber hukum berarti telah menyimpang dari tuntunan Rasulullah
7. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menjaga kita dari penyelewengan dan kesesatan. Karena, hukum-hukum yang ada di dalamnya berlaku sampai hari kiamat. Maka tidak boleh membedakan keduanya.
Referensi:
1. Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid wa Al Ahkam, karya as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. III/1400 H, Ad-Dar As-Salafiyah, Kuwait.
2. Al-Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhab Ahli As Sunnah, karya Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan, penerbit Dar As-Sunnah, cet. III.
Wallahu A’lam .
Diambil dari Majalah Fatawa
Sumber: http://muslim.or.id/?p=5 
sumber: http://opi.11Omb.com  hadis web

thumbnail-cadangan
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu  memahami (nya).
 
Sebenarnya AYAT 67 dalam SURAT AL MUKMIN itu masih terkait dengan ayat sebelumnya, yaitu AYAT 66. ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW supaya memberikan penegasan kepada orang-orang musyrik bahwa Allah SWT melarang segala bentuk penyembahan terhadap selain Allah, karena sesembahan berupa patung, berhala dan sejenisnya sudah terbukti tidak layak untuk disembah. Sebaliknya allah memerintahkan penyembahansecara mutlak kepada-Nya, karena tuhan semesta alam yang patut disembah itu menurut akal yang sehat pasti memiliki sifat maha kuasa. Maka diantara bukti-bukti kemahakuasaan allah itu baru dirinci dalam AYAT 67 yang kita kaji sekarang ini.
Pada satu sisi AYAT 67 dalam SURAT AL MUKMIN itu pada dasarnya menjelaskan bukti-bukti kemahakuasaan Allah dalam menciptakan manusia. Dia menciptakan manusia itu dalam bentuk ciptaan yang paling baik, dan memberinya rezeki dari hasil berbagai bumi yang baik-baik. Kemudian ayat tersebut menjelaskan tahapan hidup manusia sejak dari permulaan ketika masih berwujud setetes air mani, kemudian berwujud janin sampai memasuki masa tua lalu mati.
dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa manusia tercipta dari tanah. karena setetes air mani yang merupakan asal kejadian manusia itu tercipta dari darah, darah tercipta dari makanan, makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan, dan ternyata tumbuh-tumbuhan itu berasal berasal dari tanah dan air. Tanah itulah yang sebenarnya merupakan asal kejadian mani, kemudian mani berproses dalam kurun waktu tertentu sampai menjadi segumpal darah, lalu segumpal darah berproses menjadi janin, kemudian lahirlah manusia dari rahim ibu.
Dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa usia manusia di dunia ini hanya berkisar dalam 3 tahapan : kanak-kanak, dewasa, dan tua. tetapi tidak semua manusia mengalami 3 tahapan itu, karena ada yang kedahuluan mati sebelum sampai pada tahap yang pertama (mati keguguran), ada uang kedahuluan mati sebelum sampai pada tahap yang ke dua(mati kecil), dan ada pula yang demikian, atas kemahakuasaan Allah semua manusia sama-sama diantarkan ke terminal hidup paling ahir yang disebut ajal musamma yakni hari kiamat. begitulah diantara bukti-bukti kemahakuasaan Allah yang patut direnungkan olehy orang yang berakal sehat.
Pada sisi lain ayat tersebut mengingatkan kepada kita bahwa masing-masing dari ketiga tahapan hidup  yang di alami manusia itu brjalan secara berurut-urut dalam batas waktu tertentu. masa anak-anak terbatas pada usia sekian sampai sekian, begitu pula masa dewasa dan masa tua. Tidak mungkin yang masa dewasa akan kembali ke masa kanak-kanak, begitu pula masa yang sudah tua tidak mungkin kembali ke masa muda.
Karena itu, manusia dituntut supaya pandai-pandai menggunakan ketiga tahapanya untuk hal-hal yang positif, bermanfaat dan produktif.

thumbnail-cadangan
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Surat AL BAYYINAH : 5 yang mengandung firman Allah dimuka telah turun dalam rangka mengkritisi aqidah yang sesat dan penyimpangan tehadap agama yang lurus dikalangan kaum ahli kitab dan kaum musyrik. Mula-mula mereka saling berdebat seputar bakal datangnya seorang nabi ahir zaman yang namanya maupun identitasnya tercantum dalam kitab suci mereka. Perbedaan itu kadang kala terjadi diantara kaum musyrik dengan kaum yahudi, dan kadang kal terjadi pada kaum musyrik dengan kaum nasrani.
apabila Nabi ahir zaman yang di janjikan dalam kitab suci mereka itu benar-bemar dating, maka mereka akan siap membelanya, mendukungnya dan mengikuti ajarannya”. Begitulah antara lain yang selalu dikatan oleh kaum yahudi maupun kaum nasrani ketika berdebat dengan kaun musyrik. Akan tetapi setelah Nabi Muhammad SAW benar-benar di utus oleh Allah sebagai Nabi ahir zaman dan pemunkas para rasul, ternyata kaum musyriklah yang selalu berada di garis depan untuk menentang beliau, mengajak seluruh masyarakat makkah unuk berkomplot dalam menhalang-halangi dakwah beliau, bahkan menyiksa orang-orang yang setia mengikuti dan yang membela beliau. Sementara kaum yahudi dan kaum nasrani, sebagian besar tidak segan-saegan meninggalkan ajaran agamanya yang masih murni unuk berkomplot dengan kaum musyrik, hanya karena takut dimusuhi dan di teror oleh mereka.
Itulah sebabnya, maka dalam ayat 5 dimuka telah di tegaskan bahwa kaum ahli kitab maupun kaum musyrik itu dalam kitab sucinya hanyalah dibebani  beberapa perintah yang sesungguhnya dapat memeperbaiki keberagamaan da kinerja hidup mereka, mereka dapat mendatangkan kebahgian hidup bagi hidup mereka di duni dan aherat yaitu;
a.       Memurnikan ibadah kepada Allah, baik secara terbuka maupun secara rahasia
b.      Membersihkan semua amal ibadah dari berbagai bentuk perilaku syirik
c.       Mengikti agama Nabi Ibrahim AS, yakni sebuah agama yang mengajarka tauhid dan kemurnian ibadah dengan menolak segala jenis penyembahan kepada selain Allah SWT.
Khusus untuk Nabi Muhammad SAW beserta umatnya, selain dibebani ketiga perintah itu maka di tambah lagi dengan dua perintah :
d.      Mendirikan shalat dalam arti menjalankannya denan menghadirka hati unuk hormat kepada dzat yang di sembah, aga terbiasa untuk selalu unduk kepada Nya dalam berbagai aspek kehidupan
e.       Menunaikan zakat dalam arti memeberikan sebagian kekayaan kepada orang-orang yang berhak sebagaimana di tenukan dalam nash al qur’an.
Kemudian pada bagian akhir ayat 5 dalam SURAT AL BAYYINAH telah di tegaskan bahwa dengan menjalankan ke 5 perintah tersebut diatas, maka demikian itulah yang di sebut “ BERAGAMA  SECARA MURNI, LURUS DAN BENAR”.

thumbnail-cadangan
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,
لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
Kedua ayat tersebut dimuka termasuk dalam 5 ayat penutup SURAT AL AN’ AM, yaitu ayat 161 sampai 165. Ayat 161 bermuatan perintah kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau mengemukakan pernyataan yang tegas kepada kaum musyrik, bahwa yang di anut oleh Nabi Ibrahim AS bukanlah agama seperti yang di anggap oleh mereka, dan bukan pula seperti anggapan kaum ahli kitab yang menyimpang, melainkan agama yang benar dan pandangan hidup yang lurus.
Beliau di perintahkan pila dalam ayat 162 sampai 163 (yang kita pealajari sekarang ini) supaya mengemukakan suatu pernyataan lagi scara tegas bahwa:
  1. beliau berpegan teguh dan berpedoman kepada agama Nabi Ibrahim As dengan sekaligus mendakwakannya secara lisan maupun dalam bentuk amal nyata
  2. beliau adalah orang pertama yang mengikuti agama Nabi Ibrahim dengan tulus dan benar
  3. beliaulah yang memulihkan kemurnian agama Nabi ibrahim As. Setelah diselewengkan oleh oang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Ayat 162 menyebutkan beberapa hal terpenting yang harus di persembahkan semata-mata kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain, yaitu:
  1. shalat; meliputi shalat fardlu dan shalat sunah
  2. ibadah; dalam ayat tersebut memang tertuju pada ibadah haji dan umrah, namun tidak salah jika dimaknai dengan ibadah dalam arti yang luas
  3. hidup; artinya hidup itu di fokuskan untuk semata-mata mengikuti ajaran Allah demi mendapatkan keridlaan-Nya
  4. mati; artinya nyawa pun di korbankan untuk membela dan menjunjung tinggi ajaran Allah SWT sehingga kembali kepangkuan Allah SWT dngan ridla dan di ridlai.
Betapa ayat tersebut mencakup segala jenis amal saleh yang merupakan kinerja hidup orang mukmin di dunia dan infestasi hidupnya kelak di aherat.  Karena itu, amal saleh jenis apapun tenunya harus dilandai dengan ikhlas untuk semata-mata mengabdi kepada Allah SWT inilah “KEMURNIAN IBADAH”yang disebutkan dalam judul Bab ini. Bagi orang mukmin tentunya memposisikan diri untuk senantiasa mempersembahkan hidup dan matinya untuk Allah semata-mata, sehingga dalam setiap perbuatanya ia lebih menutamakan nilai-nilai kebajikan dan kesalehan. Ia tidak pantas memiliki kecenderungan duniawi, lalu ingin dipuji dan takut di cela orang dalam beramal da beribadah.
Sedangkan ayat 163 pada bagian pertama berisi penolakan terhadap segala bentuk perilaku “syirik”, baik syirik secara terang-terangan maupun syirik secara terselubung. Syirk terang-terangan berarti masih bertuhan ganda, seperti mempercai pada kekuatan pada benda yang bisa menolong atau menyelamatkan. Sementara syirik terselubung berarti masih bermotif ganda dalam beramal dan beribadah, sehingga berebutan melakukan amal dan ibadah tetapi untuk tujuan mencari pujian atau dukungan. Selanjutnya bagian ahir ayat 163 berisi perintah agar orang mukmin benar-benar menjadi muslim yang mematuhi segala perintah Allah dan menjahui segenap larangan-Nya.